Rebana Biang: Sang Raksasa Musik Perkusi Betawi
Warisan Budaya Tak Benda Nasional yang Sarat Makna Ritual
Rebana Biang adalah permata tersembunyi dalam kesenian Betawi. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional pada tahun 2017, kesenian ini memiliki karakteristik yang sangat unik dibandingkan jenis rebana lainnya. Disebut "Biang" karena ukurannya yang sangat besar dan suaranya yang menggelegar.
Anatomi & Karakteristik Rebana Biang
Berbeda dengan rebana pada umumnya yang memiliki logam *kicrik*, Rebana Biang tampil polos tanpa logam. Keistimewaan lainnya adalah jumlahnya yang hanya terdiri dari tiga buah instrumen dengan peran yang berbeda:
| 1. Gendung | Ukuran terkecil (diameter ±30 cm), dimainkan sambil duduk. |
| 2. Kotek | Ukuran sedang (diameter ±60 cm), pengatur irama tengah. |
| 3. Biang | Raksasa (diameter ±90 cm), disangga dengan lutut dan telapak kaki untuk mengatur nada (*tengkepan*). |
Repertoar Lagu & Akulturasi
Lagu-lagu dalam Rebana Biang terbagi menjadi dua irama utama:
- Lagu Arab (Lagu Nyalun): Berirama cepat. Contoh: *Robuna Salun, Allahu Ah, Hadro Dzikir*.
- Lagu Melayu (Lagu Betawi): Berirama lambat. Contoh: *Anak Ayam Turun Selosin, Sanggarai Kacang, Yulaela*.
Pementasan Sanggar Pusaka Rebana Biang Ciganjur di Setu Babakan (Foto: IG @rebannabiang)
Filosofi & Sejarah Perkembangan
Konon, Rebana Biang bermula sebagai media dakwah yang diajarkan usai pengajian. Dalam pertunjukannya, musik ini sering dipadukan dengan Tari Blenggo dan jurus-jurus Silat Cingkrik. Sejak tahun 1825, kesenian ini menyebar dari Ciganjur ke wilayah pinggiran seperti Parung, Bojong Gede, hingga Citayam.
Hadirkan Kesenian Rebana Biang!
Ingin memeriahkan acara pernikahan, khitanan, atau festival budaya dengan gemuruh Rebana Biang yang otentik? Pelestari Budaya Store siap membantu Anda terhubung dengan sanggar terbaik.
Tanya Jasa Pementasan